DBH Migas Kepulauan Sapeken, Gas Kami Diambil, Apa yang Kami Dapat?

Oleh Inyoman Sudirman Pemuda Saebus

Sudah puluhan tahun gas diambil dari laut Kepulauan Sapeken. Gasnya dibawa keluar untuk kebutuhan negara.

Tapi di Kepulauan Sapeken sendiri, banyak warga masih bertanya: kami dapat apa dari semua itu?

Pertanyaan ini wajar. Bukan karena kami anti migas. Tapi karena kami ingin adil.

Apa yang kami rasakan?

Di Kepulauan Sapeken, hidup kami tergantung pada laut. Laut adalah tempat cari ikan, jalan penghubung antar pulau, dan sumber kehidupan.

Setelah puluhan tahun jadi daerah penghasil migas, kenyataannya pembangunan di kepulauan masih tertinggal. Air bersih masih susah, transportasi laut masih mahal dan tidak menentu, sekolah dan listrik belum merata.

Wajar kalau pemuda di Kepulauan Sapeken bertanya, ke mana larinya Dana Bagi Hasil atau DBH migas itu?

Kenapa DBH ini jadi masalah?

Ada tiga masalah utama:

1. Kami yang dekat, tapi tidak dianggap penghasil.
Gasnya diambil dari laut dekat Kepulauan Sapeken. Kami yang paling dekat dengan risikonya. Tapi pembagian hasilnya terasa tidak adil untuk kepulauan.

2. Tidak ada keterbukaan
Warga tidak pernah tahu berapa banyak gas yang diambil, berapa uang yang dihasilkan, dan berapa yang kembali ke daerah. Yang sampai ke pulau biasanya hanya bantuan-bantuan kecil, bukan pembangunan yang besar dan berkelanjutan.

3. Hasilnya tidak sampai ke pulau
DBH yang diterima kabupaten lebih banyak dipakai untuk pembangunan di daratan. Sementara Kepulauan Sapeken yang menjadi lokasi pengambilan gas justru kurang mendapat perhatian.

Lalu harus bagaimana?

Menurut kami, solusinya sederhana:

Pertama, buka datanya. Pemerintah harus terbuka, berapa gas dari Kepulauan Sapeken dan berapa DBH-nya. Biar warga percaya.

Kedua ada anggaran khusus untuk Kepulauan Sapeken. Sisihkan sebagian DBH khusus untuk Sapeken. Untuk kapal yang layak, air bersih, dan sekolah.

Ketiga buat tabungan masa depan. Gas akan habis. Jadi sebagian hasil DBH harus ditabung menjadi Dana Abadi Kepulauan Sapeken. Biar anak cucu kami nanti tetap bisa menikmati hasilnya, meski gasnya sudah tidak ada lagi.

Intinya begini: kalau gas dari Kepulauan Sapeken dipakai untuk menerangi Indonesia, maka Kepulauan Sapeken juga harus ikut terang.

Yuk Share

Berita Lainnya