KKN Posko 30 Kenalkan Pengolahan Kunyit Menjadi Jamu Instan dan Body Scrub kepada Santri di PP. Tarbiyatul Athfal

Sumenep, 4 September 2026 — KKN Posko 30 Dusun Tanodung, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, melalui kegiatan HerbalCraft mengajak para santri mengenal dan mempraktikkan pengolahan kunyit menjadi jamu kunyit instan serta memanfaatkan ampasnya sebagai bahan body scrub.

Kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bentuk edukasi mengenai pemanfaatan tanaman herbal yang ada di sekitar lingkungan pesantren. Selain memperkenalkan kunyit sebagai bahan herbal, kegiatan ini juga mengajarkan para santri untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan sisa agar tidak langsung menjadi limbah.

Sebelum kegiatan berlangsung, para santri belum mengetahui secara langsung bagaimana kunyit dapat diolah menjadi produk herbal. Oleh karena itu, kegiatan HerbalCraft tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga praktik bersama dari tahap awal hingga menghasilkan produk.

Dalam pembuatan jamu kunyit instan, bahan yang digunakan terdiri atas kunyit segar, gula, dan air. Kunyit terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan, kemudian dihaluskan. Hasil penghalusan tersebut diperas dan disaring untuk memperoleh sari kunyit.

Sari kunyit selanjutnya dimasak bersama gula menggunakan api sedang. Selama proses pemasakan, campuran terus diaduk hingga air menyusut dan mulai membentuk kristal. Proses tersebut berlangsung sekitar 30–45 menit, bergantung pada jumlah bahan dan kondisi pemanasan. Setelah kristal terbentuk dan cukup dingin, hasilnya dihaluskan hingga menjadi serbuk jamu kunyit instan.

Tidak berhenti pada pembuatan jamu, ampas kunyit yang tersisa juga dimanfaatkan kembali sebagai bahan body scrub. Ampas yang telah dipisahkan dari sari kunyit terlebih dahulu dikeringkan, kemudian dihaluskan hingga memiliki tekstur lebih lembut. Setelah itu, ampas dicampurkan dengan bahan pendukung hingga menghasilkan body scrub yang dapat digunakan sebagai lulur tubuh.

Para santri mengikuti seluruh tahapan secara langsung, mulai dari menyiapkan kunyit, mengambil sari, memasak hingga menjadi kristal, mengolah hasilnya menjadi serbuk, hingga memanfaatkan ampas kunyit menjadi body scrub. Bagi para peserta, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru karena sebelumnya mereka belum mengetahui bahwa kunyit dapat diolah menjadi produk herbal dan bagian sisanya masih dapat dimanfaatkan kembali.

Kordes KKN Posko 30, Mafinnatut Tauqiyah, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam bentuk praktik agar pengetahuan yang diberikan dapat lebih mudah dipahami oleh para santri.

“Sebelumnya para santri belum mengetahui bagaimana proses pembuatan jamu kunyit instan maupun pemanfaatan ampasnya. Karena itu, kami mengajak mereka untuk melihat dan mencoba langsung setiap tahapannya, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga pengalaman dalam mengolah bahan alami menjadi produk yang bermanfaat,” ujar Mafinnatut Tauqiyah.

Hal serupa disampaikan Robiatul Adawiyah, salah satu santri yang mengikuti kegiatan. Ia mengaku baru pertama kali membuat jamu kunyit instan dan mengetahui bahwa ampas kunyit masih dapat dimanfaatkan.

“Saya baru pertama kali membuat jamu kunyit instan. Sebelumnya saya hanya mengetahui kunyit sebagai bahan jamu, tetapi belum tahu bagaimana cara mengolahnya sampai menjadi bentuk instan. Saya juga baru tahu bahwa ampas kunyit masih bisa dimanfaatkan menjadi body scrub. Setelah mengikuti praktik ini, saya mendapatkan pengalaman baru dan ternyata cukup menarik untuk dicoba,” ungkap Robiatul.

Sementara itu, Fina Uqailatus Dhufairoh, salah satu santri lainnya, mengaku tertarik dengan pemanfaatan ampas kunyit dalam kegiatan tersebut.

“Awalnya saya mengira ampas kunyit hanya akan dibuang setelah diambil sarinya. Ternyata masih bisa dimanfaatkan menjadi body scrub. Dari kegiatan ini saya jadi tahu cara mengolah ampas kunyit dan mendapatkan pengalaman baru,” ungkap Fina.

Kunyit sendiri dikenal sebagai salah satu tanaman herbal yang mengandung kurkumin. Senyawa tersebut memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi. Secara tradisional, kunyit juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal untuk membantu menjaga kesehatan tubuh dan pencernaan.

Melalui kegiatan HerbalCraft, KKN Posko 30 berharap para santri dapat mengenal lebih dekat potensi tanaman herbal yang tersedia di lingkungan sekitar. Selain memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, para santri juga diharapkan mampu melihat bahwa bahan alami dan sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dan kreatif.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya sederhana untuk mengenalkan prinsip pemanfaatan bahan secara menyeluruh, dari kunyit yang diolah menjadi jamu hingga ampasnya yang dimanfaatkan kembali menjadi body scrub. Dengan demikian, HerbalCraft tidak hanya memperkenalkan pengolahan herbal, tetapi juga mendorong santri untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar.

Yuk Share

Berita Lainnya