Catatan Anak Pulau Untuk Bupati Sumenep Yang Bermimpi Jadi Gubernur

Trending

Oleh: inyoman Sudirman
(Anak Pulau)
Bupati Sumenep saat ini, Achmad Fauzi Wongsojudo, kembali masuk radar DPP PDI Perjuangan untuk dipertimbangkan maju dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2029. Bahkan sejumlah tokoh madura,sudah menyebut Bupati Fauzi layak jadi Gubernur Jatim.
Mimpi itu sah. Tidak ada larangan seorang Bupati dari ujung timur Madura bermimpi memimpin 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur. Tapi sebelum berlayar terlalu jauh ke Grahadi, izinkan kami, anak-anak pulau, menitip catatan.
Kami adalah bagian dari Sumenep yang sering disebut dalam sambutan, tapi jarang disebut dalam prioritas.
1. Gubernur itu Bicara Jawa Timur, Bupati Sudah Selesai Bicara Soal Pulau?
Pak Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo hari ini memimpin kabupaten dengan 126 pulau berpenghuni. Itu bukan angka statistik. Itu adalah 126 denyut nadi yang butuh kepastian.
Anak Pulau Sapeken, Kangean, Masalembu, Raas, Sapudi masih bertanya hal yang sama setiap tahun:
Kapan kapal tidak lagi tergantung cuaca dan belas kasihan? Kapan tiket kapal tidak harus dibeli dengan sistem antrean yang mengular sejak subuh? Kapan listrik 24 jam bukan lagi barang mewah yang hanya menyala 12 jam lalu padam? Kapan air bersih tidak harus dibeli Rp 150 ribu per tandon? Kapan puskesmas di kepulauan punya dokter yang menetap, bukan dokter yang datang 2 minggu sekali?
Jika Sumenep saja, dengan APBD triliunan, masih menyisakan PR pulau yang menganga, bagaimana meyakinkan 40 juta warga Jatim bahwa kepulauan akan diperhatikan dari Surabaya?
2. Jangan Jadikan Pulau Sebagai Panggung Estetik Saja
Kami bosan pulau kami hanya muncul di baliho Madura Culture Festival dan video drone pariwisata. Kangean yang eksotik, Sapeken yang indah, Gili Iyang yang disebut pulau oksigen.
Paradoksnya, tamu festival bisa tidur di hotel berbintang di daratan Sumenep, sementara anak pulau harus numpang tidur di masjid Kalianang karena kapal tertunda cuaca dan tidak ada penginapan transit dari Pemkab.
Anak pulau tidak butuh dicitrakan indah. Kami butuh dihubungkan. Jembatan darat mungkin tidak mungkin, tapi jembatan kebijakan sangat mungkin: subsidi silang BBM kapal rakyat, internet yang tidak hanya mengandalkan BTS yang mati saat hujan, dan sekolah menengah kejuruan maritim yang lulusannya bisa kerja di pulaunya sendiri.
3. Catatan Untuk Calon Gubernur dari Madura
Pak Bupati, jika mimpi itu serius, maka Madura timur harus jadi bukti, bukan beban.
Jadilah Bupati yang menyelesaikan masalah paling Madura: ketimpangan daratan dan kepulauan. Jika dalam dua periode ini, Sumenep bisa menjadi contoh bahwa kabupaten kepulauan bisa setara pelayanannya, itu adalah kampanye terbaik untuk Pilgub. Tanpa spanduk, tanpa baliho.
Orang Jatim tidak akan bertanya, “Partai apa yang mengusungmu?” Mereka akan bertanya, “Bagaimana kau memperlakukan pulau-pulaumu sendiri?”
Karena Gubernur Jawa Timur bukan hanya Gubernur Surabaya, Malang, dan Kediri. Dia juga gubernurnya anak-anak yang berangkat sekolah naik perahu jam 5 pagi di Sapeken. Dia juga gubernurnya ibu-ibu yang melahirkan di atas kapal karena tidak ada ruang operasi di Pagerungan.
Jika itu bisa dijawab di Sumenep, maka Grahadi bukan lagi mimpi.
Tapi jika pulau masih ditinggalkan, maka jangan heran jika suatu saat anak pulau yang akan bilang: “Selesaikan dulu tugasmu di rumah, sebelum bermimpi mengurus rumah orang lain.”






