
Trending

SUMENEP – Arogansi Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Sabuk Nusantara 74 memicu kemarahan penumpang tujuan Sapeken yang terlantar di Pelabuhan Batu Gulok, Pulau Kangean, Kecamatan Arjasa, Selasa (23/9/2026).
Bukan hanya ditelantarkan gegara muatan barang overload, penumpang terusan yang sudah membeli tiket resmi Kalianget – Sapeken justru diusir secara kasar dari atas kapal dan diancam tiketnya akan dibikin jika tidak sabar menunggu.
Kronologi Pengusiran
Kapal Sabuk 74 sandar di Batu Gulok sekitar pukul 02.00 malam WIB dalam kondisi penuh sesak muatan. Di dek atas terlihat tumpukan karung beras dan barang lainnya milik pedagang.
Saat kapal hendak melanjutkan pelayaran, ABK tiba-tiba mengumumkan bahwa kapal akan di berangkat kan jam 9 pagi t melanjutkan ke Sapeken karena overload. Penumpang terusan Sapeken diminta turun semua di Batu Gulok.
“Hingga pukul 12 siang Kami protes,karena kapal tidak kunjung berangkat,kan tiket kami terusan sampai Sapeken. Kenapa disuruh turun di Kangean? ABK-nya langsung bentak, ‘Tidak sabar nunggu, tiket mau dibalikin! Turun saja kalau tidak mau nunggu!’,” ungkap Budi saat menirukan suara ABK kapal tersebut
Itu bahasa preman, bukan bahasa pelayan publik. Kami ini bayar, bukan numpang gratis,” ucap budi
Akibat pengusiran itu, ratusan penumpang kini terlantar di lantai dermaga Pelabuhan Batu Gulok. Mereka menggelar tikar dan kardus
“Manusia dikalahkan sama barang. ABK lebih sayang sama barang daripada sama penumpang. Ini keterlaluan,” kata Budi l
Disperkimhub Sumenep Bungkam
Sikap arogan ABK Sabuk 74 ini dinilai sebagai bukti gagalnya pembinaan dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Sumenep.
Hingga berita ini dinaikan, tidak ada satu pun pejabat Disperkimhub yang menghubungi pihak kapal untuk menenangkan penumpang atau memberikan kepastian jadwal. Bahkan tidak ada teguran terhadap ABK yang mengancam penumpang.
“Kalau ABK bisa seenaknya ngancam mau balikin tiket, berarti Disperkimhub mandul. Tidak pernah kasih pelatihan pelayanan. Kapal perintis ini dibiayai negara, bukan milik pribadi ABK. Bupati harus evaluasi total,” tegasnya.
Para penumpang menuntut agar oknum ABK Sabuk 74 yang arogan tersebut dipecat dan operator kapal diberikan sanksi tegas.











