BPRS Bhakti Sumekar Raih Excellent Performance di Ajang Infobank Sharia Award 2026

Trending

SUMENEP – Krisis kekeringan parah melanda Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep. Di tengah ternak yang kurus kering tinggal tulang berbalut kulit seperti di foto ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep dinilai tutup mata dan abai terhadap penderitaan warga kepulauan.
Kemarau panjang tahun ini membuat puluhan sumur warga di beberapa pulau di Kecamatan Sapeken mengering total. Warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk ternak mereka.
Kondisi paling memilukan terlihat pada ternak sapi milik warga. Karena tidak ada rumput hijau dan kesulitan air minum, sapi-sapi di Sapeken kurus kering, tulang rusuk menonjol, dan terancam mati.
Seperti yang terlihat dalam foto yang diterima redaksi, seekor sapi induk bersama anaknya mencari makan di tanah tandus yang gersang, tanpa sehelai rumput pun.
Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari warga pulau saebus, Herli.
Menurut Herli, apa yang terjadi di Sapeken sudah masuk kategori bencana kekeringan yang harus segera ditangani serius oleh pemerintah, bukan dibiarkan.
“Ini bukan kekeringan biasa. Air sumur sudah kering berminggu-minggu, warga harus beli air dengan harga mahal. Sapi warga kurus-kurus, mau mati semua karena tidak ada pakan dan air. Tapi sampai hari ini, mana aksi BPBD Sumenep? Nol! Mereka terkesan tutup mata,” tegas Herli kepada media ini, Rabu (08/10/2026).
Herli mengkritik keras kinerja BPBD Sumenep yang dinilai lamban dan diskriminatif. Menurutnya, BPBD hanya fokus di daratan, sementara warga kepulauan yang paling terdampak dibiarkan berjuang sendiri.
“Jangan hanya kalau ada proyek baru turun. Ini soal nyawa warga dan ternak yang jadi sumber ekonomi warga pulau. Kalau BPBD tidak mampu menyalurkan bantuan air bersih dan pakan ternak ke Sapeken, untuk apa ada BPBD? Bubarkan saja,” kecamnya dengan nada tajam.
Ia mendesak Bupati Sumenep untuk menegur keras Kepala BPBD dan segera memerintahkan droping air bersih dalam skala besar ke seluruh pulau di Sapeken, termasuk Pulau Sapeken, Sadulang, dan pulau-pulau kecil lainnya.
“Warga Sapeken juga bagian dari Sumenep. Jangan dianaktirikan. Kami butuh air sekarang, bukan janji dan rapat di kantor AC,” pungkas Herli.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala BPBD Sumenep belum memberikan keterangan resmi terkait krisis kekeringan di Kepulauan Sapeken.