Banyak Petani di Kepulauan Sapeken Belum Masuk Kelompok Tani,Akses Pupuk dan Bantuan Terhambat

SUMENEP-SAPEKEN, TERASINDO.CO.ID – Mayoritas warga di Kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep dikenal sebagai nelayan. Namun di beberapa pulau seperti Pulau Sepanjang, Saur Saebus, Paliat,terdapat petani padi, jagung, yang menggantungkan hidup dari lahan tadah hujan.

Ironisnya, banyak petani di wilayah kepulauan terluar itu hingga kini belum tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan).

Kondisi ini berdampak langsung pada sulitnya petani mendapatkan hak-haknya sebagai petani.

“Data kami di lapangan, masih banyak petani di Saur Saebus, Sapeken, Paliat, Sadulang yang bertani secara perorangan. Belum masuk Poktan, belum punya KTA, belum masuk RDKK,” ujar salah seorang petani didesa saebus Kecamatan Sapeken, Selasa (30/9/2026).

Padahal, keanggotaan dalam kelompok tani menjadi syarat mutlak untuk mengakses pupuk bersubsidi, bantuan alat mesin pertanian (alsintan), hingga program Pengembangan Masyarakat

Dampak: Krisis Pupuk Berulang

Tidak masuknya petani dalam kelompok tani memperparah krisis pupuk yang hampir setiap musim tanam terjadi di Sapeken. Sejumlah petani sebelumnya mengeluhkan keterlambatan tanam akibat ketidaktersediaan pupuk di kios resmi.

Tanpa Poktan, petani tidak terdata dalam e-RDKK sehingga pupuk subsidi tidak bisa dialokasikan ke wilayahnya

Herlianto, pemuda tani asal Pulau Saebus, Kepulauan Sapeken membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, banyak petani memilih hidup sederhana dan bertani secara tradisional turun-temurun tanpa administrasi kelompok.

“Petani di pulau itu kalau ditanya, ya tanam saja. Soal kelompok, banyak yang tidak tahu pentingnya. Sosialisasi dari daratan jarang sampai ke pulau-pulau kecil,” katanya.

Minim Sosialisasi dan Jarak Antar Pulau

Ada tiga faktor utama penyebab banyak petani belum masuk Poktan:

  1. Jarak geografis: Kepulauan Sapeken terdiri dari 11 desa yang tersebar di puluhan pulau. Akses penyuluh terbatas.
  2. Minim literasi administrasi: Petani menganggap kelompok tani hanya formalitas, belum paham manfaatnya untuk pertanian
  3. Regenerasi Poktan tidak jalan: Beberapa Poktan yang terbentuk hanya itu-itu saja anggotanya. Petani baru tidak direkrut.
    Akibatnya, dari potensi lahan di Saur Saebus, hanya sebagian kecil yang ter-cover bantuan pemerintah.

Harapan Petani

Petani berharap Kementerian Pertanian Republik Indonesia melakukan pendataan ulang dan jemput bola pembentukan kelompok tani baru di setiap dusun.

“Kalau sudah masuk kelompok tani, kami enak. Bisa dapat pupuk subsidi yang dinanti-nanti masyarakat” ujar seorang petani di Saebus.

Pemkab Sumenep dituntut hadir lebih serius. Sebab, ketahanan pangan di kepulauan tidak akan terwujud jika petani-petani kecilnya sendiri belum diakui secara kelembagaan.

Yuk Share

Berita Lainnya