Gegara Muatan Barang Overload, Penumpang Kapal Sabuk 74 Terusan Sapeken Terlantar di Batu Gulok

Foto ilustrasi gambar dibuat AI

SUMENEP – Fakta baru terungkap di balik terlantarnya penumpang tujuan Sapeken di Pelabuhan Batu Gulok, Pulau Kangean. Bukan semata karena cuaca buruk, melainkan diduga gegara kapal lebih mengutamakan muatan barang ketimbang penumpang.Selasa (23/9/2026)

penumpang terusan rute Kalianget – Kangean – Sapeken tertahan di Pelabuhan Batu Gulok, Kecamatan Arjasa. Kapal yang seharusnya hanya menurunkan penumpang asal pulau Kangean langsung melanjutkan pelayaran ke Sapeken tak kunjung berangkat, dengan alasan overload muatan.

“Dek kapal penuh barang. Penumpang disuruh turun dulu di Batu Gulok, nunggu selesai nya mongkar muatan kapal yang tidak jelas kapan berangkatnya, Padahal kami sudah beli tiket terusan,” keluh Budi (30), warga Sapeken yang membawa anak dan istrinya, lanjut Budi menjelaskan bahwa kapal sandar ke pelabuhan batu gulok sekitar jam 2 malam sampai pukul 12 belum ada berangkat

Pantauan di lapangan, dek kapal terlihat sesak oleh tumpukan karung beras, material bangunan, hingga peti kemas milik pedagang

Warga menilai praktik mendahulukan barang dibanding manusia ini sudah menjadi kebiasaan buruk di rute kepulauan.

Operator kapal diduga mencari untung lebih besar dari ongkos barang ketimbang tiket penumpang, karena tarif barang tidak terkontrol.

“Ini keterlaluan. Manusia dikalahkan sama barang. Kalau memang kapal barang, bilang saja kapal barang. Jangan jual tiket penumpang Sapeken kalau nyatanya yang diangkut sembako dan semen,” protes budi

Disperkimhub Dinilai Tutup Mata

Kejadian ini membuat kinerja Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) Kabupaten Sumenep disorot tajam. Disperkimhub sebagai regulator dan pengawas angkutan laut kepulauan dinilai tutup mata dan gagal melakukan pengawasan.

Budi menilai Disperkimhub tidak pernah melakukan sidak muatan, tidak mengatur kuota yang jelas antara barang dan penumpang, dan membiarkan operator berbuat seenaknya di Pelabuhan kaleanget

“Dimana fungsi pengawasan Disperkimhub? Kalau alasan cuaca 24 knot dan gelombang 3,5 meter masih masuk akal. Tapi ini alasan barang banyak, penumpang ditelantarkan. Itu murni kelalaian manajemen yang dibiarkan oleh dinas. Kepala Disperkimhub harus bertanggung jawab,” tegasnya.

Jarak tempuh Kangean – Sapeken yang memakan waktu 4-6 jam membuat penumpang yang terlantar di Batu Gulok semakin rentan kehabisan bekal. Banyak di antara mereka adalah warga kepulauan yang pulang membawa hasil jualan dari daratan.

Hingga sore siang ini, belum ada pernyataan resmi dari Kepala Disperkimhub Sumenep terkait penelantaran penumpang akibat overload barang tersebut. Ratusan penumpang masih bertahan di Pelabuhan Batu Gulok, menuntut kepastian keberangkatan dan evaluasi total terhadap tata kelola angkutan laut rute Sapeken.

Warga mendesak Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo untuk tidak diam dan segera mencopot pejabat yang tidak mampu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan penumpang kepulauan.

Yuk Share

Berita Lainnya