Lewat Riset dan Inovasi, BRIDA Sumenep Siapkan Produk Unggulan Bernilai Ekonomi Tinggi

Trending

SUMENEP – Keterlibatan ayah dalam mengantar anak pada hari pertama sekolah selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dinilai bukan sekadar aktivitas seremonial. Lebih dari itu, kehadiran ayah menjadi bagian dari upaya membangun karakter, memperkuat ikatan emosional anak dengan keluarga, serta menumbuhkan semangat belajar sejak awal tahun ajaran.
Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep menyambut baik ajakan agar para ayah meluangkan waktu mendampingi putra-putrinya saat memasuki lingkungan sekolah. Langkah tersebut diyakini dapat memberikan rasa aman dan percaya diri bagi anak, terutama bagi peserta didik yang baru memasuki jenjang pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H. Moh. Iksan, S.Pd., M.T.,mengatakan kehadiran ayah pada hari pertama sekolah memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar mengantar anak ke gerbang sekolah. Menurutnya, momen tersebut menjadi bentuk nyata dukungan keluarga terhadap proses pendidikan anak.
“Anak yang mendapatkan perhatian dan pendampingan dari kedua orang tuanya akan memiliki motivasi yang lebih baik dalam menjalani proses belajar. Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah menjadi simbol dukungan moral yang sangat berarti bagi mereka,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini peran pendampingan pendidikan anak kerap lebih banyak dilakukan oleh ibu. Padahal, keterlibatan ayah juga memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan karakter, kedisiplinan, rasa tanggung jawab, hingga kepercayaan diri anak.
Karena itu, Dinas Pendidikan mengajak seluruh satuan pendidikan untuk menciptakan suasana MPLS yang ramah anak dan ramah keluarga, sehingga orang tua, termasuk ayah, dapat berpartisipasi aktif dalam mendukung proses adaptasi peserta didik di lingkungan sekolah.
Selain mengenalkan lingkungan sekolah, guru, serta tata tertib, kegiatan MPLS juga diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Dengan sinergi yang baik, pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.
Dinas Pendidikan menilai keterlibatan orang tua, khususnya ayah, dapat meningkatkan kenyamanan psikologis anak ketika memasuki fase baru dalam pendidikannya. Dukungan emosional sejak hari pertama sekolah diyakini mampu membangun rasa percaya diri sehingga peserta didik lebih siap mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Melalui semangat kolaborasi tersebut, Dinas Pendidikan berharap budaya keterlibatan ayah dalam pendidikan anak tidak berhenti pada pelaksanaan MPLS semata, tetapi menjadi kebiasaan yang terus terbangun sepanjang proses pendidikan. Dengan demikian, sekolah dan keluarga dapat berjalan beriringan dalam mencetak generasi yang berkarakter, mandiri, dan berprestasi.