SUKSES DAN BERKARIR CAKAP, DUA PERSONIL POLSEK AMBUNTEN RESMI NAIK PANGKAT

Trending

Oleh: Moh. Rasul Junaidy
Hari ini, Rabu, 1 Juli 2026, Kepolisian Negara Republik Indonesia memperingati Hari Bhayangkara ke-80. Setiap peringatan Hari Bhayangkara menjadi momentum untuk mengenang kembali jati diri Polri sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, sekaligus melakukan refleksi terhadap harapan publik akan hadirnya penegakan hukum yang berintegritas.
Dalam konteks itu, kita selalu teringat pada satu kalimat dari Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang hingga kini terus hidup dalam ingatan publik. “Di Indonesia ada tiga polisi yang tak bisa disuap. Pertama patung polisi, kedua polisi tidur, dan ketiga Jenderal Polisi Hoegeng.”
Kalimat tersebut memang disampaikan dengan gaya satire yang khas Gus Dur. Namun, di balik kelucuannya tersimpan kritik yang tajam sekaligus harapan yang besar. Satire itu mengingatkan bahwa integritas adalah fondasi utama penegakan hukum. Sosok Jenderal Polisi Hoegeng dikenang bukan semata karena jabatannya, melainkan karena kejujuran, keberanian, dan keteguhannya dalam menjaga amanah.
***
Di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum, nama Hoegeng Imam Santoso selalu kembali disebut. Ia bukan sekadar mantan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ia telah berubah menjadi simbol. Sebuah nama yang melampaui jabatan dan zaman.
Tidak banyak pejabat yang dikenang bukan karena besarnya kekuasaan, melainkan karena kesanggupannya menolak menyalahgunakan kekuasaan. Hoegeng termasuk di antaranya. Integritasnya bahkan terasa lebih besar daripada pangkat yang pernah disandangnya.
Dalam kehidupan politik Indonesia, godaan kekuasaan hampir selalu berjalan beriringan dengan godaan materi. Jabatan sering kali menjadi pintu masuk bagi berbagai kepentingan yang ingin membeli pengaruh. Namun Hoegeng memilih jalan yang berbeda. Ia menjaga jarak dari para cukong, bandar, dan pemilik modal yang berusaha menaklukkan negara melalui kedekatan dengan penguasa.
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah ketika seorang bandar judi mengirimkan hadiah mewah ke rumahnya. Hadiah itu bukan sekadar pemberian, melainkan pesan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan. Hoegeng menjawab pesan itu dengan tindakan yang sederhana tetapi tegas. Hadiah tersebut ditolaknya mentah-mentah dan dikeluarkan dari rumahnya. Baginya, harga diri seorang polisi tidak memiliki nilai tukar.
Kejujuran Hoegeng bukanlah hasil pencitraan. Ia lahir dari keyakinan bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Karena itu, ia lebih memilih hidup sederhana daripada membiarkan dirinya terjerat utang moral kepada siapa pun.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam cara ia menjalankan tugas. Tidak jarang Hoegeng turun langsung mengatur lalu lintas di jalan raya. Ia tidak merasa martabat seorang jenderal berbintang empat berkurang hanya karena berdiri di persimpangan. Sebaliknya, ia percaya bahwa seorang polisi, dari pangkat terendah hingga tertinggi, pada hakikatnya adalah pelayan masyarakat.
Pandangan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya revolusioner. Sebab pelayanan publik hanya mungkin terwujud ketika kekuasaan tidak dipahami sebagai privilese, melainkan sebagai tanggung jawab.
Sebagai Kapolri pada masa transisi dari Orde Lama menuju Orde Baru, Hoegeng menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ia memimpin institusi yang sedang berada di tengah perubahan politik nasional. Namun di tengah situasi tersebut, keberaniannya justru semakin menonjol.
Ia tidak ragu menindak penyelundupan mobil mewah yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh. Salah satu nama yang mencuat ketika itu adalah Robby Tjahjadi, sosok yang dikenal memiliki jaringan kuat. Di hadapan hukum, Hoegeng menolak mengenal istilah orang kebal.
Keberanian semacam itu tentu memiliki konsekuensi. Integritas sering kali membuat seseorang berdiri sendirian. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa lebih baik berdiri sendiri di pihak yang benar daripada ramai-ramai membenarkan penyimpangan.
Hoegeng juga pernah menyampaikan pandangan yang hingga kini tetap relevan mengenai pemberantasan korupsi. Menurutnya, membersihkan korupsi sama seperti mandi. Air selalu mengalir dari kepala ke bawah. Karena itu, pembenahan harus dimulai dari para pemimpin sebelum berharap perubahan terjadi di tingkat bawah.
Gagasan tersebut sesungguhnya mengandung pelajaran mendasar tentang kepemimpinan. Keteladanan selalu lebih ampuh daripada sekadar perintah. Sulit mengajak bawahan hidup bersih apabila atasan justru mempertontonkan kemewahan yang tak sejalan dengan penghasilannya.
Ironisnya, puluhan tahun setelah Hoegeng pensiun, persoalan integritas di tubuh aparat penegak hukum masih menjadi pekerjaan rumah bangsa. Berbagai kasus yang menyeret pejabat kepolisian, mulai dari penyalahgunaan wewenang, perjudian, narkotika, pungutan liar, hingga gaya hidup mewah, telah menggerus kepercayaan masyarakat.
Kepercayaan publik sesungguhnya merupakan modal terbesar sebuah institusi penegak hukum. Ketika kepercayaan itu retak, hukum kehilangan wibawanya. Yang tersisa hanyalah kekuasaan tanpa legitimasi moral.
Di titik inilah nama Hoegeng kembali menemukan relevansinya. Publik tidak sedang merindukan romantisme masa lalu. Yang dirindukan adalah hadirnya figur-figur aparat yang menempatkan kehormatan di atas keuntungan pribadi.
Hoegeng mengajarkan bahwa menjadi polisi yang baik tidak selalu membutuhkan pidato panjang. Cukup dengan hidup sederhana, menolak suap, bersikap adil, dan berani mengatakan tidak kepada kekuasaan yang menyimpang. Keteladanan jauh lebih nyaring daripada slogan.
Barangkali itulah sebabnya nama Hoegeng tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia terus hadir setiap kali masyarakat mempertanyakan arah penegakan hukum di negeri ini. Ia menjadi cermin yang diam, tetapi memantulkan pertanyaan yang keras kepada siapa pun yang memegang kewenangan.
Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso wafat pada 14 Juli 2004. Namun nilai-nilai yang diwariskannya tidak ikut dimakamkan. Kejujuran, kesederhanaan, keberanian, dan pengabdian adalah warisan yang tetap hidup selama bangsa ini masih mendambakan penegakan hukum yang bermartabat.
Pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80, tahun ini, penghormatan terbaik kepada Hoegeng bukanlah sekadar mengenang namanya atau mengutip kisah-kisah keteladanannya. Penghormatan yang sesungguhnya adalah menghadirkan lebih banyak polisi yang tak bisa dibeli. Sebab, ketika integritas menjadi budaya, bukan lagi pengecualian, maka kepercayaan publik akan kembali menemukan rumahnya.
Selamat Hari Bhayangkara ke-80. Semoga semangat pengabdian, kejujuran, dan keteladanan senantiasa menjadi jiwa setiap insan Bhayangkara dalam mengabdi kepada bangsa dan negara. (*)