DPRD Sumenep Ingatkan Pengelola MBG, Agar Tetap Menjaga Kualitas Gizi

Trending
SUMENEP – Masjid dan musala seharusnya menjadi pusat ibadah sekaligus penanda waktu salat bagi umat Islam, salah satunya melalui lantunan azan yang dikumandangkan menggunakan pengeras suara.
Namun kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan oleh warga Pulau Saebus, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep.
Sejumlah masjid dan musala di pulau terpencil tersebut hingga kini belum menikmati aliran listrik yang memadai.
Akibatnya, masjid kerap berada dalam kondisi gelap saat malam hari, bahkan suara azan sering kali tidak terdengar karena keterbatasan sumber energi untuk menghidupkan pengeras suara.
Asnen, tak mir Masjid Darul Islah yang berada di Dusun Waru, Pulau Saebus, membenarkan kondisi tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa ketiadaan listrik menjadi persoalan lama yang belum menemukan solusi nyata.
“Listrik di pulau kami memang tidak ada. Jadi kadang saya tidak bisa azan karena setrum di aki habis,” ujar Asnen saat ditemui.
Menurutnya, selama ini masjid hanya mengandalkan aki dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas sangat terbatas.
Namun kondisi aki yang sudah tua membuat daya simpan listrik semakin melemah.
“Aki di masjid sudah tidak kuat menyimpan setrum. Makanya, kalau mau azan subuh sering kali setrumnya sudah habis,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk membeli perangkat PLTS dengan kapasitas besar yang mampu menyuplai listrik selama 24 jam, pihak masjid belum memiliki dana yang cukup.
Padahal kebutuhan listrik di masjid semakin mendesak, terutama menjelang bulan Ramadan.
“Beberapa bulan lagi masuk Ramadan. Tentu kami butuh listrik untuk kegiatan ibadah seperti tadarus dan salat malam. Tapi saldo masjid belum mencukupi untuk membeli panel surya yang layak,” katanya.
Kondisi ini mencerminkan masih timpangnya pembangunan infrastruktur dasar di wilayah kepulauan, khususnya dalam pemenuhan listrik untuk fasilitas ibadah dan sosial.
Padahal, keberadaan listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga menyangkut kelangsungan aktivitas keagamaan dan sosial masyarakat.
Asnen berharap ada perhatian dari para dermawan maupun pihak terkait untuk membantu pengadaan PLTS satu paket lengkap agar masjid dapat berfungsi secara optimal.
“Kami sangat berharap ada donatur yang bersedia membantu masjid kami untuk membeli PLTS,” pungkasnya.
Hingga kini, warga Pulau Saebus masih menanti kehadiran negara dan kepedulian berbagai pihak agar rumah ibadah tidak lagi tenggelam dalam gelap, dan azan dapat kembali berkumandang dengan layak di pulau terluar Sumenep.