Kesaktian Pancasila, Sakti di Upacara, Lemah di Kebijakan

Oleh : Sudirman terasindo

1 Oktober 2025 – Hari Kesaktian Pancasila lagi.

Pagi ini, seperti biasa, kita akan melihat pemandangan yang sama di seluruh Indonesia. Upacara khidmat di Lubang Buaya, semua pejabat memakai baju rapi, mengheningkan cipta, dan mengulang mantra sakti: “Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum.” Siaran langsung, karangan bunga, pidato yang dihafal.

Tapi mari kita jujur: di luar lapangan upacara itu, seberapa sakti Pancasila hari ini?

Opini ini mungkin tidak populer di hari yang sakral ini, tapi justru karena sakral, kita harus mengkritiknya dengan jujur.

1.Pancasila Hafal di Luar Kepala, Hilang di Dalam Kebijakan

Kita sangat jago menghafal 5 sila. Anak SD sampai pejabat hafal. Tapi praktiknya?

Sila ke-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Lalu bagaimana kita menjelaskan fenomena flexing pejabat, rumah mewah hasil korupsi, sementara rakyat antre BLT? Bagaimana kita menjelaskan kasus kekerasan aparat, intoleransi yang dibiarkan, dan hukum yang tumpul ke atas tapi tajam ke bawah? Di mana adil dan beradabnya?

Sila ke-5: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Data BPS bilang ketimpangan masih tinggi. Kekayaan 1% orang terkaya setara dengan milik 50% penduduk terbawah. Akses pendidikan berkualitas dan kesehatan masih ditentukan oleh kode pos tempat kamu lahir. Jika keadilan sosial benar-benar menjadi kompas, mengapa RUU dan kebijakan ekonomi kita lebih sering memihak konglomerat daripada petani dan buruh?

Kita menjadikan Pancasila sebagai jimat, bukan sebagai alat kerja. Dijadikan untuk menguji orang lain radikal atau tidak, tapi lupa menguji kebijakan kita sendiri: apakah sudah Pancasilais?

2. Kesaktian yang Dibungkam Menjadi Alat Kekuasaan

Ini ironi sejarah Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini lahir dari tragedi G30S 1965 untuk menegaskan bahwa ideologi negara tidak boleh diganti dengan kekerasan.

Namun 60 tahun kemudian, kesaktian itu sering disalahgunakan. Pancasila dipakai sebagai palu godam untuk membungkam kritik.

Setiap kali ada mahasiswa protes, aktivis lingkungan menolak tambang, atau kelompok minoritas menuntut haknya, cap “anti-Pancasila” langsung keluar. Padahal yang mereka lakukan adalah inti dari Pancasila itu sendiri: musyawarah, keadilan sosial, dan kemanusiaan.

Kita lupa, yang mengancam Pancasila hari ini bukan lagi tank dan senapan, melainkan korupsi yang sistemik, politik dinasti, dan oligarki yang merampas kedaulatan rakyat. Itu yang lebih berbahaya daripada sekadar perbedaan pendapat di media sosial. Sila ke-4 tentang “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan” telah berubah menjadi “Kerakyatan yang dipimpin oleh yang punya modal dan punya keluarga pejabat”.

3. Apa yang Harus Kita Lakukan Agar Pancasila Kembali Sakti?

Kesaktian Pancasila tidak akan datang dari upacara yang lebih besar tahun depan. Kesaktian itu hanya akan kembali jika kita berani melakukan 3 hal:

Pertama, hentikan formalitas. Jangan lagi ukur nasionalisme dari seberapa keras menyanyikan lagu atau seberapa banyak spanduk Pancasila. Ukur dari apakah anggaran desa tidak dikorupsi, apakah hakim berani memutus adil, dan apakah anak miskin bisa sekolah tanpa pungli.

Kedua, kembalikan Pancasila ke ruang diskusi, bukan ruang indoktrinasi. Pancasila lahir dari perdebatan sengit para pendiri bangsa yang berbeda-beda: nasionalis, agamis, sosialis. Mereka berdebat untuk mencari titik temu. Hari ini, kita justru takut berdebat tentang Pancasila. Kita butuh lebih banyak dialektika di kampus dan ruang publik, bukan lebih banyak hafalan.

Ketiga, teladani dari atas. Rakyat tidak akan percaya pada Pancasila jika yang mengucapkannya di podium adalah orang yang sama yang merampok uang rakyat. Kesaktian itu menular dari keteladanan, bukan dari instruksi.

Hari Kesaktian Pancasila seharusnya bukan hari untuk merayakan bahwa Pancasila sudah sakti dan final. Justru sebaliknya, ini adalah hari untuk mengakui bahwa Pancasila sedang tidak baik-baik saja, sedang diuji, dan sedang membutuhkan kita untuk membuatnya kembali sakti.

Bukan dengan upacara. Tapi dengan keberanian untuk berlaku adil, bahkan saat tidak ada yang melihat.

Selamat Hari Kesaktian Pancasila. Semoga sakti bukan hanya namanya

Yuk Share

Berita Lainnya