Senior PMII Sumenep Ingatkan Kabid Eko, Jabatan Itu Amanah untuk Memakmurkan Petani, Bukan Sekadar Duduk di Kursi Kantor

Oleh: IMAM SYAFIIE M. Pd

Petani Sumenep itu sabar. Terlalu sabar. Saat saluran irigasi tersier jebol, mereka tambal sendiri. Saat jalan usaha tani putus, mereka pikul hasil panen di punggung. Saat pupuk langka, mereka diam dan menunggu.

Kesabaran inilah yang seringkali membuat pejabat lupa, bahwa jabatan Kepala Bidang di DKPP Sumenep itu bukan hadiah, tapi amanah berat.

Pesan inilah yang disampaikan Senior PMII Sumenep baru-baru ini. Sebuah pengingat yang keras, lugas, dan harus didengar oleh Kabid Eko. Bekerja lah untuk memakmurkan pertanian, bukan sekadar memakmurkan laporan.
Pertanian Sumenep Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Kita harus jujur. Di atas kertas, Sumenep adalah lumbung pangan Madura. Potensi hortikultura, jagung, padi, dan tembakau kita luar biasa. DKPP Sumenep bahkan sudah meluncurkan aplikasi PETA-NI untuk memudahkan petani melapor infrastruktur rusak. Inovasinya ada.

Tapi di bawah, di Rubaru, di Manding, di Lenteng, di Ambunten, keluhan petani masih sama dari tahun ke tahun:
1. Penyuluh jarang turun. Petani milenial di Kasengan bisa maju karena kreatif sendiri, bukan karena didampingi intensif.
2. Infrastruktur tidak tuntas. Irigasi dan jalan tani dibangun, tapi pemeliharaan dan pemerataan belum dirasakan semua desa.
3. Petani merasa jauh dari Kabid. Kabid adalah jembatan antara kebijakan Kepala Dinas dan kebutuhan petani di lapangan. Kalau jembatannya tidak pernah ke lapangan, bagaimana mau tahu jembatan mana yang roboh?
Inilah yang disorot Senior PMII Sumenep. Organisasi yang selama ini mengawal isu keislaman, keummatan dan kemasyarakatan di Sumenep ini melihat ada gejala pejabat yang asyik di zona nyaman.
Untuk Kabid Eko, Ini Pengingat
Kepada Kabid Eko, pesan Senior PMII ini bukan serangan personal, ini adalah teguran moral:

Pertama, keluarlah dari balik meja. Kantor DKPP di Jalan Trunojoyo itu dingin ber-AC. Tapi sawah di Pasongsongan itu panas. Seorang Kabid harus lebih banyak menghabiskan sepatunya di lumpur daripada di karpet kantor. Dengar langsung petani.

Kedua, makmurkan itu artinya hasil nyata, bukan seremonial. Memakmurkan pertanian bukan diukur dari berapa banyak kegiatan seremonial Hari Krida Pertanian yang dihadiri. Tapi diukur dari: apakah produktivitas petani naik? Apakah biaya produksi turun? Apakah pupuk subsidi benar-benar sampai tepat waktu sebelum musim tanam?

Ketiga, jadilah pembela petani, bukan sekadar pelaksana program. Seorang Kabid harus berani bersuara lantang ke atas ketika anggaran penyuluh kurang, ketika alat mesin pertanian tidak sesuai kebutuhan, ketika distribusi pupuk bermasalah. Jangan hanya jadi “yes man” yang mengamini semua.

Sumenep butuh Kabid yang punya hati petani. Yang marah ketika petani merugi, dan yang tidur tidak nyenyak ketika irigasi desanya kering.

Jika jabatan hanya diartikan sebagai eselon, golongan, dan tunjangan kinerja, maka kita akan terus mencetak pejabat yang kenyang, tapi petani yang tetap kurus.

Sudah waktunya Kabid Eko membuktikan. Senior PMII Sumenep sudah mengingatkan. Petani Sumenep sedang menunggu bukti, bukan janji.

Jabatan itu sementara. Tapi beras yang dihasilkan dari sawah Sumenep, itulah yang menghidupi kita semua selamanya.

Yuk Share

Berita Lainnya