PONDOK PESANTREN AL-IKHLASH MANDALA GELAR SEMINAR LITERASI NASIONAL.

Trending

Dalam rangka Meningkatkan minat membaca dan menulis siswa dan guru di kecamatan Rubaru, (Sabtu, 15), Lembaga Pendidikan Islam Al-Ikhlash di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Ikhlas desa Mandala, kecamatan Rubaru kabupaten Sumenep menggelar acara Seminar Literasi Nasional bertajuk “Membangun Budaya Baca Siswa untuk Mengatasi Rendahnya Mutu Pendidikan Bangsa.”
Kegiatan Seminar Literasi Nasional ini secara resmi dibuka oleh Bapak Mohammad Yono, M.Pd. selaku perwakilan Kementrian Agama kabupaten Sumenep. Pak Yono (panggilan akrabnya) menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya terhadap terlaksananya acara Seminar Literasi Nasional di Al-Ikhlas.
Ahmad Syukri Billah, S.Pd. selaku ketua panitia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta yang terdiri dari para kepala sekolah dari mulai tingkat MI, MTs, SMPI, MA dan SMK se-kecamatan Rubaru yang telah hadir memenuhi ruangan aula Al-Ikhlash.
Menurut Syukri Billah, acara ini merupakan sebuah ikhtiar Lembaga Pendidikan Islam Al-Ikhlash untuk memulai mimpi besar menjadikan generasi pelajar, termasuk pendidik agar mulai serius membumikan literasi di kecamatan Rubaru.
“Ini merupakan langkah awal sekaligus komitmen Al-Ikhlash untuk meningkatkan minat literasi siswa dan para guru di kecamatan Rubaru” Ucapnya penuh optimis.
Kiai Mahmud Ghazali selaku pengasuh Pondok Pesantren Al-Ikhlash memungkasi acara Seminar Literasi Nasional sesi pertama (pembukaan) dengan pembacaan doa dengan khusyuk.
Di sesi kedua, Mas Moh. Rasyid selalu moderator mengawali sesi kedua (inti) Seminar Literasi Nasional dengan kalimat-kalimat pemantik seputar pentingnya melek literasi di kalangan guru dan siswa.
Dalam materi yang disampaikan, Pak Satria Dharma mengupas tuntas pentingnya membaca dalam kehidupan umat manusia. Terlebih bagi dunia pendidikan adalah sebuah keniscayaan.
Menurut Pak Satria, membaca adalah pintu masuk untuk menguasai semua pelajaran. Maka, tanpa membaca, mustahil anak-anak bisa menguasai pelajaran. Termasuk guru, mustahil bisa mengajar dengan baik, jika, tidak diawali dengan kegiatan membaca.
Penggagas Gerakan Literasi Sekolah ini juga memberikan satu analogi logis. Mengapa anda mengerjakan salat!? Jawabannya tentu karena diperintah oleh Allah. Di dalam Al-Quran jelas termaktub demikian. Lalu mengapa perintah Allah yang paling pertama diwahyukan dalam Al-Qur’an, yaitu perintah membaca (iqra’, baca:
QS. Al-Alaq 1-5) dilalaiakan umat Islam? Bukankah melanggar perintah Allah adalah perbuatan dosa. Jika meninggalkan salat berdosa, lalu mengapa perintah membaca dianggap tidak berdosa!?
Pada akhirnya pria yang mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah ke seluruh penjuru tanah air tentang pentingnya literasi ini menyampaikan harapannya agar mulai hari ini, sejak keluar dari ruangan ini, seluruh peserta wajib membiasakan diri membaca. Minimal 10-15 setiap hari
“Kehadiran saya di hadapan bapak dan ibu ini adalah bagian dari dakwah saya. Dakwah supaya bapak dan ibu mau membaca.” Pungkasnya.
Para peserta tampak antusias mengikuti sesi pemaparan materi dan diskusi tanya jawab. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersama agar guru dan siswa agar terus meningkatkan kebiasaan membaca dan menulis, sehingga pada akhirnya akan terbentuk masyarakat yang cerdas, kritis, dan berwawasan luas. (Amn)