Hikayah awal Berdomisilinya K.Nasruddin di brumbung serta kiprah putra putra yang terlibat dalam Pendirian dua MesjidTersebut

Regional :

Penulis :MUFTI ALI NUR

Banyak masyarakat memanggilnya k.fatimah karena anak yang pertama bernama fatimah

Nama asli k.nasruddin

Dalam satu darah rupanya sitrum ke pemimpinan terpancar kepada ke dua cucu dari jalur kakek bujuk jamman

Di tijau dari silsilah bujuk jamman memiliki dua putri

Yang pertama :

Ny.Rihan nama asli

Arbina

Ny.arbina mempunyai putra ahmad faqih

Sedangkan

Yang kedua

Ny.Nursiban

Ny.Nursiban mempuyai putra

Nasruddin

Jadi , dari jalur kakek jamman Ahmad faqih dan nasruddin saudara sepupu

K.Ahmad berkiprah di sumber nyamplong pamekasan, dengan banyaknya karya karya beliau tentang ilmu fikih serta kajiannya yang sangat

Mendalam sehingga syaih di mekkatul mukarromah memberi gelar Al- faqih dan beliau juga pendiri pondok pesantren dengan nama Pondok pesantren al-fakih sumber nyamplong pamekasan dengan ke aliman serta kewaro’annya kh.ahmad fakih beliau tetap terkenang hingga kini dan beliau salah satu ulama pamekasan yang yang

Menjaga ke utuhan kitab tarjuman karangan kh.abdul hamid bin istbat banyuanya yang wafat

Di makkatul mukarromah yang di temui dalam kubur nya bersujud hingga kini sehingga kuburan beliau di bangun.

sedangkan Nasruddin berkiprah di brumbung

Prenduan

Nasruddin dari jalur bapak patra dari ki kamsun bin salamah bin qussoh rabah pamekasan

Sedangkan mahyati asli brumbung ayah bernama mahmudin sedangkan ibu bernama aminah

Awal kedatanga K.Nasruddin

Ke brumbung melalui menimba ilmu ke pondok pesantren annuqayah guluk guluk di bawah asuhan k.syarqowi

Sekitar tahun 1889

Beliau berasal Dari Pademawu pamekasan menuju Annuqayah guluk guluk

Berjalan kaki untuk menimba ilmu dengan jarak tempuh kurang lebih sekitar 23 kilo dari Pamekasan pademawu

Suatu ketika K.Nasruddin berjumpa dengan se orang gadis yang bernama Mahyati putri dari K.Mahmudin Brumbung sehingga allah awt mengaruniai lima keturunan

1.anak pertama fatimah suami bernama Zainuddin

Panggilan akrap

ki hasin seppo

2.Anak kedua nasihah suami bernama jamaluddin

Panggila akrap ki.jalil

3.Anak ke tiga zahroni suami bernama abd.Syukkur

Ki latifah

4.Anak ke empat jailani istri bernama Sarima

Panggilan akrap ki.satik

5.Anak kelima abd.rofi’ istri bernama Zuhriyah

Panggilan akrap ki durrafik

Dan di situlah K.Nasruddin dapat berdomisili juga berkiprah di Brumbung dengan musollah yang telah di

Bangunnya walaupun di waktu itu musollah tersebut masih beratab daun janur ( gideng dlm bahasa madura)

Di Saat itulah mosollah tersebut belum di binak mesjid

Dengan bangunan yang cukup sederhana

Sehubungan dengan

Ubudiahnya K.Nasruddin untuk shalat jum’at beliau ke

Mesjid kedungdung perjalanan jarak tempuh kurang lebih sekitar 2 kilo ke arah timur. Sekarang mesjid tersebut diberi nama mesjid Al-kososi

Maklum musollah di kediamannya belum di

Binak mesjid

Beberapa tahun kemudian karena putri

Ki Nasruddin yang pertama sudah mencukupi usia kemudian K.Fatimah berinisiativ untuk

mengambil menantu dari salah satu putra tokoh yang mempunyai pengaruh di kampung tersebut

Yaitu putra Ki.Marjudin

Akrapnya K.Ruksin

Agar kelak perjalanan kiprah K.Nasruddin menjadi meluas dan kuat serta dapat terbentengi dari orang orang yang memusuhi dan menghalanginya

Suatu ketika K.Nasruddin sering di aniaya kadang2 di lempari batu dengan orang yang memusuhi beliau, sehingga memanggil menantunya yang bernama zainuddin

di masa itu .

Dengan menantunya Zainuddin Alhamdulillah K.Nasruddin bisa dapat beribadah dengan tenang , karena menantu tersebut yang dapat menghalangi.

Ketika ada seseorang yang menganiayanya…

Beberapa tahun kemudian karena Ki.Nasruddin kondisi fisik kurang sehat karena foktor Usia maka beliau memerintah kepada menantunya yang bernama Zainuddin agar musollah tersebut di binak mesjid sekitar tahun 1951 M . setelah beberapa tahun beliau sakit yang cukup lama kurang lebih sekitar dua tahun sehingga beliau tidak bisa berjalan hingga beliau wafat pada tahun 1962. pesaren beliau pas di sebelah utara mesjid yang sekarang di beri nama masjid al iftitah brumbung

Setelah beberapa tahun, kemudian

zainuddin pindah tempat dari barat lorong

Pindah ke timur lorong dengan bangunan musollah yang sederhana yang sekarang musollah tersebut di beri nama

Musollah ZAINUDDIN temor lorong yang di kenal akrapnya Langger mor lorong

Setelah beberaoa kemudian sekitar tahun………….

Bersamaan dengan kiprahnya, kondisi di patobin barat lorong mesjid al-iftitah di renofasi dengan beberapa tukang bangunan yang berasal dari pamekasan dan pembiayaan tersebut dari hasil kekompakan serta suadaya masyarakat dengan hal yang demikian dalam pengaturan renofasi tersebut tidak terlepas dari kedua putranya yaitu,

ny.hj.sofiyah dengan kh.jailani nasri

Namun meskipun k.zainuddin sudah pindah ke temor lorang sebagai kakak yang tertua tetap mengawasi kedua adiknya dalam renofasi mesjid tersebut yaitu hj.sofiah dengan kh.jailani nasri dan seiring dengan berjalannya waktu

jailani nasri fokus di kitabiahnya sehingga beliau banyak karya karya kitab klasik yang diminati hingga kini.

KH. Muhammad Jailani Nasri, Penulis Profuktif dari Brumbung #1

Halimi Zuhdy

Membaca karya KH. M. Jailani Nasri dari Brumbung serasa menemukan harta karun yang lama tersembunyi. Nilainya bukan hanya pada lembaran kertas tua dan tinta hitam yang mulai pudar, tapi pada kedalaman isi yang menyejukkan jiwa, membuka cakrawala hati dan pikiran.

Dua kitab dari beberapa kitab yang berhasil ditemukan Majmū‘atu al-Faḍā’il dan Asliḥatu al-Madārij menjadi bukti nyata bahwa di balik kesunyian kampung kecil, ada suara ilmu yang pelan namun dalam, mengalir dari seorang alim yang tidak banyak bicara, tapi meninggalkan jejak yang tak lekang oleh waktu.

Kitab Majmū‘atu al-Faḍā’il, Faiḍatul Ghufrān fī Faḍīlatil Qur’ān wa Tāliyah Minḥatul Ghaffār fī Faḍīlatil Istighfār wa Ba‘dahā Milḥatul Da‘awāt fī Faḍīlatish Shalawāt, disusun dalam bentuk nadham atau syair-syair ringkas yang padat makna. Di dalamnya terkumpul berbagai keutamaan amal dari membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, hingga bershalawat semuanya ditopang dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits yang shahih.

Yang menarik, kitab ini tidak hanya menampilkan nadham dalam bahasa Arab, tapi juga dilengkapi dengan terjemahannya dalam bahasa Madura. Ini menjadikannya akrab di telinga masyarakat kampung (terutama Brumbung, Desa Prenduan dan desa Aengpanas) dan sering dibaca di berbagai “kompolan” atau majelis rutin di desa-desa. Bahasa yang sederhana, namun maknanya merasuk.

Meski KH. Jailani Nasri bukan sosok yang sering muncul di mimbar besar, ilmunya tetap hidup lewat karya-karyanya. Tidak banyak yang menulis tentang beliau, tapi orang-orang yang pernah dekat dengannya tahu betul siapa beliau. Seorang alim yang tenang, tak banyak bicara, tapi meninggalkan cahaya ilmu yang nyata.

Nama Jailani yang kita kenal, sejatinya adalah nama yang ditambahkan oleh KH. Ilyas Syarqawi, sehingga menjadi Muhammad Jailani. Beliau adalah santri dari pondok tua, Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. Beliau berguru langsung kepada KH. Abdullah Sajjad dan KH. M. Ilyas Syarqawi. Pernah tinggal di ndalem Temur (Late) dan ndalem Berek (Lubangsa). disebut KH. Rumhol Islam. (Bersambung di #3: Tirakat di Pesantren).

Saya masih teringat wajahnya yang tenang dan teduh. Hidupnya bersahaja. Dulu saya tidak tahu, bahwa sosok sepuh itu diam-diam menyimpan begitu banyak karya. Hingga suatu hari, Abah saya, K. Achmad Zuhdy, pernah berkata, “Di Brumbung, hanya KH. M. Jailani yang menulis kitab. Beliau orang alim. Saya belum melihat yang seperti beliau di kampung ini.”

Senada dengan itu, KH. Nur Zaini menyebut, “Beliau bukan hanya penulis kitab, beliau itu Habibi-nya Brumbung (BJ. Habibi). Sepertinya ada tujuh kitab yang beliau tulis sendiri.”

Salah satu karya lainnya adalah Asliḥatul Madārij, sebuah terjemahan dalam bahasa Madura dari kitab klasik Alfiyah Ibnu Mālik. Kitab ini ditulis atas permintaan langsung dari KH. Waqit Khazin, hasil dari musyawarah asatidz. Terdiri dari beberapa jilid, kitab ini dulu pernah dijual di koperasi Annuqayah, harganya hanya 500 rupiah. (#4 keunikan Kitab Aslihatul Madarik)

“Kyai Habib Kalabeen, Guru saya, juga pernah belajar Faraidh pada Kyai Jailani, bahkan kyai Habib dawuh, bahwa beliau itu bukan hanya alim tapi allamah, dan cerita ini saya dapat dari Kyai Sedekah, teman sekelas beliau ” kata KH. Ahamad Fauzi

Karya beliau bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk direnungi. Ia menjadi semacam wasiat abadi dari seorang alim kampung untuk generasi sesudahnya bahwa ilmu tidak harus lahir dari panggung besar, tapi bisa tumbuh di lorong-lorong sunyi, di kampung-kampung kecil, dari hati yang tulus, pena yang jujur, dan niat yang bersih.

Bersambung…

#2 Keterbatasan yang Melahirkan Karya

Yuk Share

Berita Lainnya