Kemiskinan, Sampel, dan Ilusi

Regional :

Oleh: Inyoman Sudirman_

Sumenep kembali terjebak dalam paradoks statistik. Angka kemiskinan menurun, tetapi posisinya tak bergeser. Kabupaten ujung timur Madura ini tetap bertahan di urutan ketiga termiskin dari bawah di Jawa Timur. Di atas kertas, ini kemajuan. Dalam persepsi publik, ini kegagalan yang berulang.

Di ruang-ruang diskusi, yang diingat bukan persentase penurunan, melainkan peringkat yang stagnan. Publik tidak membaca tabel, mereka membaca posisi. Dan posisi Sumenep hari ini adalah simbol dari ketertinggalan yang tak kunjung terkejar, meski grafik menunjukkan arah yang menurun.

Masalahnya sederhana tapi krusial, penurunan kemiskinan tidak bersifat absolut, melainkan relatif. Ketika semua daerah bergerak turun secara bersamaan, maka kecepatanlah yang menentukan. Sumenep tidak cukup hanya membaik, ia harus membaik lebih cepat dari daerah lain, termasuk Probolinggo yang berada satu tingkat di atasnya.

Namun di balik angka-angka itu, ada satu variabel yang jarang disentuh secara terbuka, bagaimana data itu dikonstruksi. Di sinilah peran survei Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sentral. Data kemiskinan bukan sekadar cerminan realitas, melainkan hasil dari metode, instrumen, dan (yang paling menentukan) sampel.

Sampel adalah potongan kecil yang dipercaya mewakili keseluruhan. Dalam konteks Sumenep, ada 432 titik dari puluhan kecamatan dijadikan dasar penilaian kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Dari titik-titik inilah narasi kemiskinan dibangun, dipublikasikan, dan akhirnya dijadikan pijakan kebijakan.

Tetapi ketika titik-titik itu diketahui, permainan baru dimulai. Pengetahuan tentang lokasi sampel membuka ruang intervensi yang sangat spesifik.
Pemerintah, jika mau, tidak perlu mengubah seluruh wajah kemiskinan. Cukup memastikan bahwa titik-titik sampel itu “terlihat baik” saat diukur.

Di sinilah muncul ilusi kemajuan. Ketika sampel dijaga, dikawal, bahkan “dipoles”, maka hasil survei akan menunjukkan perbaikan. Angka turun, grafik membaik, laporan terlihat optimistis. Namun di luar titik-titik itu, realitas bisa tetap stagnan, atau bahkan memburuk.

Ambil contoh sektor pertanian. Titik koordinat lahan yang dijadikan sampel sudah ditentukan jauh sebelum masa tanam. Dari situ, proses pengamatan berjalan hingga panen. Secara sistem, ini objektif. Tetapi dalam praktik, keberhasilan di titik tersebut bisa “dibantu” dengan berbagai intervensi, seperti pupuk, pendampingan, bahkan perhatian khusus.

Hasilnya bisa ditebak. Panen di titik sampel berhasil, produktivitas naik, dan data menunjukkan tren positif. Tetapi apakah seluruh petani merasakan hal yang sama? Di sinilah statistik berpotensi menjelma menjadi panggung, bukan cermin.

Jika logika ini diterapkan secara luas, maka pengentasan kemiskinan berisiko bergeser dari kerja struktural menjadi sekadar strategi kosmetik. Fokusnya bukan lagi memperbaiki kondisi masyarakat secara menyeluruh, melainkan memastikan indikator terlihat membaik saat diukur.

Ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan krisis orientasi. Ketika data dijadikan target, maka realitas dipaksa menyesuaikan diri dengan angka, bukan sebaliknya. Kebijakan kehilangan substansi, karena keberhasilan diukur dari laporan, bukan dari perubahan nyata di lapangan.

Sumenep sebenarnya bisa keluar dari posisi ketiga termiskin. Bahkan dengan cepat, jika pendekatannya berbasis “pengawalan sampel”. Namun pertanyaannya: apakah itu kemenangan yang jujur? Ataukah sekadar kemenangan administratif yang rapuh?

Pada titik ini, integritas menjadi taruhan utama. Pemerintah daerah dihadapkan pada dua pilihan, memperbaiki angka atau memperbaiki keadaan. Yang pertama lebih mudah, lebih cepat, dan lebih “terlihat”. Yang kedua lebih sulit, lebih lama, tetapi lebih bermakna.

Kemiskinan tidak bisa ditaklukkan hanya dengan mengelola sampel. Ia membutuhkan perubahan struktural seperti akses pendidikan, lapangan kerja, distribusi ekonomi, dan keberpihakan kebijakan. Tanpa itu, setiap penurunan angka hanya akan menjadi ilusi yang berulang.

Dan selama ilusi itu dipelihara, Sumenep mungkin akan keluar dari peringkat ketiga. Tetapi ia tidak pernah benar-benar keluar dari kemiskinan itu sendiri. _Wallahu a’alam._(*)

Yuk Share

Berita Lainnya