Laporan ke Polisi Terhadap Wartawan Pemimpin Redaksi Nusainsider.com, meinilai Tidak Tepat Alur

Trending
SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep mengalami penurunan investasi, terutama dari sektor minyak dan gas bumi (migas), sejak awal sektor ini menjadi penopang ekonomi kabupaten Sumenep
Namun sektor pariwisata, UMKM dan koperasi mengalami pertumbuhan yang signifikan sektor tersebut menjadi penopang baru ekonomi daerah
Hal tersebut disampaikan oleh wakil Bupati Sumenep saat membacakan LKPJ di rapat paripurna DPRD Sumenep,Selasa (31/03/2026), yang memetakan dinamika investasi daerah secara komprehensif.
Wakil Bupati Sumenep, KH. Imam Hasyim, S.H.,M.H., menjelaskan bahwa penurunan investasi di sektor migas merupakan fenomena alami.
“Sebagian besar sumur migas kita berada di wilayah offshore dan sudah berproduksi cukup lama. Secara alamiah terjadi penurunan atau decline rate yang berdampak pada menurunnya investasi,” kata Wabup KH. Imam Hasyim.
Menurutnya, blok migas di Sumenep saat ini masuk kategori mature field atau lapangan tua, yang membutuhkan biaya jauh lebih besar untuk mempertahankan produksi.
“Dulu produksi tinggi, tetapi sekarang sudah memasuki fase penurunan. Ini adalah siklus wajar dalam industri migas,” ujarnya.
Selain faktor teknis, tekanan ekonomi global turut memperparah kondisi. Tingginya biaya eksplorasi dan produksi di wilayah lepas pantai, serta fluktuasi harga minyak dunia, membuat investor lebih berhati-hati.
“Biaya pengeboran sangat tinggi, sementara harga minyak dunia fluktuatif. Banyak investor menunda ekspansi,” sambung Wabup KH. Imam Hasyim, S.H.,M.H., menjelaskan.
Kebijakan energi nasional yang mulai mendorong pengembangan energi baru terbarukan (EBT) juga memengaruhi minat investasi di migas.
“Kebijakan nasional sekarang mulai mendorong energi baru terbarukan. Ini berdampak pada pergeseran minat investasi, termasuk di daerah,” ungkap sosok orang nomor dua di kabupaten Sumenep.
Meski investasi migas menurun, sektor non-migas justru menunjukkan tren peningkatan yang menggembirakan. Investasi dari sektor pariwisata, UMKM, koperasi, serta sektor produktif lainnya terus bertumbuh dan menjadi penopang baru ekonomi daerah.
“Pertumbuhan investasi di pariwisata, UMKM, dan koperasi menunjukkan bahwa ekonomi Sumenep mulai lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada migas. Ini menjadi kekuatan baru yang langsung dirasakan masyarakat,” tutup Wakil Bupati KH. Imam Hasyim, S.H.,M.H.
Dalam dokumen LKPJ, pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk fokus pada tiga pilar pembangunan: peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal dari hulu ke hilir, serta tata kelola pemerintahan yang transparan, inovatif, dan responsif.
Transformasi ini dinilai penting agar struktur ekonomi Sumenep lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan global. Ketergantungan pada migas perlahan mulai ditinggalkan, digantikan penguatan sektor-sektor produktif yang lebih berkelanjutan dan menyentuh langsung masyarakat.
Dengan arah kebijakan ini, Sumenep tidak hanya menghadapi tantangan penurunan migas, tetapi juga membuka peluang besar menuju era ekonomi baru yang lebih inklusif dan kompetitif